MATA AIR “WAI’ NAMANG TUKAN”

UntungDiCover.com-Wai’ Namang Tukan adalah nama sebuah mata air yang tidak pernah kering pada musim panas sepanas apapun. Mata air itu terletak di Desa Kenotan, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur, NTT. Tadinya orang berpikir bahwa itu hanyalah sebuh mitos. Kini sudah menjadi kenyataan bahwa mata air itu memang tidak pernah kering. Bahkan ada warga masyarakat Desa Kenotan yang merantau dan menetap di Kupang, Makasar, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Tangerang, sengaja mengambil air dari mata air itu untuk dibawa dan dimasukkan ke dalam sumurnya masing-masing, nyatanya sumur mereka juga tidak pernah kering, betapapun sumur tetangga sudah didalami berulang kali karena kekeringan.

Alkisahnya bahwa pada suatu ketika tempo dulu, wilayah Flores Timur, termasuk Adonara dan sekitarnya, tentu saja termasuk desa Kenotan di dalamnya, mengalami musibah musim panas yang sangat-sangat panas. Mungkin semacam dampak el nino di Flores Timur. Semua pepohonan dan rerumputan kering, tanaman padi dan jagung pun kering, semua mata air kering, sehingga terjadi musim lapar yang sangat dasyat. Binatang dan burung-burung pun berguguran mati satu demi satu karena tidak ada yang bisa dimakan dan bisa diminum. Demikian juga manusia. Begitu banyak manusia warga Desa Kenotan yang meninggal, sehingga masyarakat tidak mampu lagi untuk menguburkan satu per satu, bahkan banyak jenazah yang dibiarkan membusuk tanpa dikebumikan.

Konon kabarnya bahwa ada sebuah keluarga warga Desa Kenotan, yang mempunyai seekor anjing. Pada suatu ketika, mereka melihat bahwa anjingnya itu begitu segar seakan-akan tidak mengalami musibah itu. Badan anjing itu basah. Mereka berpikir bahwa anjingnya itu berkeringat karena musim panas dan suhu udara sangat panas. Oleh karenanya mereka tidak peduli terhadap badan anjing yang basah itu.

Setelah lewat berminggu-minggu, pada suatu pagi keluarga itu melihat anjingnya baru datang dari luar dan badannya basah. Mereka mulai curiga, masa’ waktu masih pagi tetapi anjingnya berkeringatan. Tidak mungkin. Jangan-jangan bukan keringat tetapi air. Artinya anjing ini mungkin menemukan air dan baru minum air, entah dari mata air atau dari kubangan air. Guna mencari kepastiannya, mereka siasati dengan mengikat abu dapur di leher anjing. Caranya dengan memasukkan abu dapur ke dalam suatu kontong kain, lalu kantong itu dilubangi sedikit sehingga ketika anjing itu berjalan, abu dapur tersebut tumpah keluar sedikit demi sedikit. Kantong abu dapur tersebut diikat di leher anjing. Hal itu mereka lakukan setiap hari. Setelah seminggu berlalu, abu dapur sudah banyak yang tertumpah sepanjang perjalanan anjing itu. Lalu mereka pun mulai bergegas berjalan mengikuti tumpahan abu dapur tersebut. Akhinya mereka menemukan bukan kubangan air, melainkan mata air. Mereka minum dari mata air itu, dan selebihnya dibawa pulang untuk air minum serta untuk siram tanaman. Dengan demikian mereka bebas dari kehausan dan kelaparan. Mereka sangat bersyukur atas penemuan mata air tersebut. Mereka juga sangat brsyukur memiliki anjing yang mampu menemukan sumber air itu.

Sebagai penghormatan dan tanda syukur mereka, mata air itu diberi nama “Wai’ Namang Tukan”. Dalam bahasa Lamaholot, wai’ berarti air. NamangTukan berarti tempat terhormat. Memang istilah NamangTukan dalam bahasa Lamaholot, digunakan dalam banyak konsep. Misalnya NamangTukan sebagai arena terhormat atau terinti dalam suatu pertunjukan kesenian (liang-namang tukan), atau arena terpenting dalam perang tanding antar desa (kuang-lagang namang tukan). Salah satu konsep NamangTukan adalah tempat terhormat sebagai bagian dari sebuah rumah. Pada umumnya orang Kenotan membangun rumahnya terdiri atas dua bagian. Bagian depan disebut NamangTukan dan bagian belakang atau dapur disebut Ubeng. Setiap rumah terdiri atas NamangTukan yang mempunyai pintu khusus untuk masuk-keluar tamu yang dihormati, sebaliknya Ubeng juga mempunyai pintu sendiri untuk masuk-keluar anggota kelurga sendiri. Ubeng juga merupakan dapur dan tempat penyimpanan air minum atau kebutuhan masak-memasak. Air minum tidak boleh disimpan di Namang Tukan. Anggota keluarga boleh masuk melalui pintu NamangTukan dan terus ke dapur lalu boleh keluar melalui pintu Ubeng, sedangkan tamu tidak boleh. Tamu hanya diperbolehkan masuk melalui pintu Namang Tukang, dan keluar pun harus melalui pintu Namang Tukang, karena menurut orang Kenotan, tamu yang baik pasti membawa berkat bagi keluarga yang menerima kunjungan, jadi harus selalu berada di tempat yang terhormat yaitu Namang Tukan. Tamu tidak boleh melihat dapur (Ubeng) apalagi masuk dan keluar lewat pintu Ubeng. Oleh karena itu sebagai penghormatan terhadap mata air bersangkutan yang membawa berkat, mata air itu diberi nama “Wai’ Namang Tukan” artinya air yang layak di tempat terhormat.

Selanjutnya sebagai penghormatan terhadap anjing yang mempertemukan mata air tersebut, keluarga itu bernazar untuk tidak makan daging anjing. Bahkan semua keluarga dalam lingkungan satu suku dengan keluarga itu mengharamkan diri artinya tidak mau makan daging anjing, meskipun warga masyarakat Desa Kenotan tidak haram alias boleh makan daging anjing.

 

Oleh :Foto Dr. BOLI SABON MAX, S.H.,M.Hum.

Boli Sabon Max
max.boli@atmajaya.ac.id
081315548837