Elang
Hai sahabat yang beruntung… apa kabar? Sehat-sehat ya kawan… Kali ini kami akan menceritakan mengenai Elang, selamat menikmati…
Alkisah disebuah pohon yang tinggi dan rindang, terdapat sebuah sarang elang yang dihuni oleh sepasang elang jantan dan elang betina. Suatu ketika elang betina bertelor dan mengeluarkan 2 telor elang. Elang betina sangat rajin mengerami 2 telor elang tersebut hari demi hari dan bulan demi bulan, sampai tiba saatnya telor elang tersebut akan menetas.
Tiba-tiba angin kencang menerpa pohon tempat elang tersebut bersarang, sang induk elang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sarang beserta kedua telornya tersebut, namun angin terlalu kencang, sehingga mengakibatkan satu telor elang terlempar terbawa angin kencang, dan jatuh ke dalam kandang ayam bercampur dengan telor ayam lainnya, tak jauh dari sarang burung elang tersebut.

Hari demi hari berlalu, akhirnya tibalah saat dimana telor elang tersebut menetas, lahirnya bayi elang tersebut disambut dengan gembira oleh keluarga ayam, keluarga ayam tersebut tidak tahu bahwa yang baru saja menetas itu sebenarnya anak elang, bukan anak ayam, sehingga si induk ayam merawat elang kecil itu dengan sepenuh hati bersama dengan anak ayam lainnya, elang kecil pun diajarkan bagaimana caranya mengais tanah untuk mencari cacing tanah buat dimakan, serta bagaimana caranya mematuk jagung atau dedak yang jatuh ditanah untuk makan. Keluarga ayam merawat elang kecil dengan penuh cinta, elang kecil pun merasa bahagia hidup dalam keluarga ayamnya.
Tahun demi tahun berganti, elang kecilpun tumbuh menjadi elang dewasa, paruh dan cakar elang tumbuh semakin kuat, bulu-bulu dan sayapnya pun semakin berkilauan dan semakin kuat. Dengan bertambahnya usianya, elang dewasa seringkali merasa ada yang aneh pada dirinya, sering dia merasa sangat berbeda dari keluarga ayam yang lain, elang dewasa merasa ada hal yang lebih pada dirinya, daripada sekedar mengais cacing, atau mematuk dedak ditanah, jiwa petualang elang dewasa seringkali muncul, rasanya ingin meninggalkan keluarga untuk berpetualang, namun karena kasih sayang yang diberikan oleh keluarga ayam, maka elang dewasa sering kali mengurungkan niatnya tersebut untuk berpetualang.
Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa elang dewasa beserta seluruh keluarga ayam sedang mengais tanah untuk mencari cacing tanah, serta mematuk dedak untuk dimakan. Kala itu dari kejauhan terdengar pekikan suara elang, pekikan suara elang itu terdengar makin kuat, dan suara pekikan elang ini membuat keluarga ayam kocar-kacir, mereka berlari tanpa arah karena panik, ayam jantan sebagai pemimpin dari keluarga ayam berteriak: “Ayoo cepat semua… kita harus sembunyi… jangan sampai tertangkap oleh burung elang itu, bisa celaka kita kalau tertangkap, kita akan dimakan oleh elang itu…” segera semua ayam termasuk elang dewasa berlari kesana kesini mencari tempat persembunyian.
Setelah berlarian kesana kesini sang elang dewasa dan keluarga ayam pun akhirnya mendapatkan tempat persembunyian, kejadian ini merupakan kejadian pertama dalam hidup elang dewasa. Sambil ngos-ngosan, elang dewasa bertanya kepada induknya: “Ibu… apa yang sebenarnya terjadi?… kenapa kita semua ketakutan dan harus sembunyi?” Sambil ngos-ngosan induk ayam betina berkata: “Anak-ku, kalau kita mendengar suara seperti tadi itu, kita harus segera sembunyi, karena itu suara burung elang, kalau kita tidak sembunyi, kita bisa ditangkap oleh burung elang itu, dan dijadikan makanan olehnya, dan lagi burung elang itu bisa terbang dengan sangat cepat…”. Kemudian induk ayam betina kembali berkata: “pokoknya kamu harus segera sembunyi ya kalau mendegar suara elang…”
Dari tempat persembunyian, sang elang dewasa mengintip dari sela-sela kayu, dan melihat kejauhan, burung elang lain tersebut sedang terbang dengan gagahnya dilangit.
Elang dewasa sangat terpesona melihat kegagahan elang lain itu terbang diangkasa. Elang dewasa berkata dalam hatinya: “Seandainya saja aku dilahirkan sebagai elang pasti aku bisa terbang tinggi diangkasa, bebas terbang ketempat dimanapun aku mau, dan aku pasti bisa melindungi keluargaku dari serangan para pemangsa, ahhhh… seandainya saja…”
Elang dewasa berkata kepada induknya: “Ibu… apakah kita kelak bisa terbang seperti elang itu diangkasa? Kan kita juga punya sayap Bu”. Mendengar pertanyaan elang dewasa, si induk betina menjawab: ”Anakku, kita ini ayam, kita ditakdirkan hidup dan makan dari tanah, memang kita punya sayap, tapi sayap kita tidak bisa untuk terbang… itulah takdir kita”

Elang dewasa berkata kepada induknya: “Ibu… apakah kita kelak bisa terbang seperti elang itu diangkasa? Kan kita juga punya sayap Bu”. Mendengar pertanyaan elang dewasa, si induk betina menjawab: ”Anakku, kita ini ayam, kita ditakdirkan hidup dan makan dari tanah, memang kita punya sayap, tapi sayap kita tidak bisa untuk terbang… itulah takdir kita”
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, elang dewasa selalu melakukan kebiasaan rutinnya yaitu mengais tanah untuk mencari cacing dan mematuk dedak untuk makan, serta berlari sembunyi jika mendengar suara pekikan elang, sampai suatu ketika elang dewasa melihat sendiri induk ayamnya tertangkap oleh elang pemangsa, dan dibawa terbang oleh elang itu, elang dewasa sangat shock dan sedih melihat kejadian tersebut.
Selama beberapa waktu elang dewasa larut dalam kesedihan, sampai akhirnya elang dewasa memutuskan untuk belajar terbang demi melindungi keluarga ayam lainnya.
Niat belajar terbang dari elang dewasa sangat kuat, walaupun berkali-kali jatuh, elang dewasa selalu mencoba, dan mencoba, dan mencoba lagi, ingatan akan kejadian dimana induk ayam betina ditangkap oleh elang pemangsa menjadi pemacunya, setelah ratusan kali mencoba untuk terbang dan selalu jatuh, akhirnya elang dewasa berhasil terbang dan melesat tinggi ke angkasa, saat itulah elang dewasa menyadari bahwa dia sebenarnya adalah elang sang penguasa langit.
Sejak saat itu elang dewasa selalu melindungi keluarga ayam dari marabahaya.
Sahabat UntungDiCoverDotCom, seorang bijak pernah berkata: TUHAN menciptakan kita untuk hidup didunia dengan rencana besar, kita diciptakan sebagai elang sang penguasa langit, walaupun sering kali karena faktor internal maupun faktor external membuat kita merasa kecil seperti ayam. Dibutuhkan pemicu yang cukup kuat untuk kita bisa melawan diri kita, mencoba berkali-kali, dan melesat ke angkasa, dan salah satu pemicu terkuat adalah rasa cinta kita kepada keluarga.
Jika sahabat menyukai cerita ini please feel free untuk like share, subscribe dan bunyikan loncengnya.
Terima kasih, Salam sukses dan sehat selalu. Team UntungDiCover.com