Work With Passion II “Tantangan & Solusi”
UntungDiCover.com – Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bahwa salah satu kunci sukses adalah bekerja di bidang yang menjadi passion kita,namun pada kenyataannya adalah hal tersebut tidaklah mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, ada beberapa tantangan berikut:
1. Banyak anak muda dan bahkan orang tua yang tidak mengetahui passionnya.
2. Banyak anak muda dan bahkan orang tua yang sudah mengetahui passionnya, namun tidak berani mengambil aksi untuk mengerjakan passionnya secara lebih serius.
Kita akan coba membahas satu persatu tantangan diatas dan mencoba untuk mencari tahu bagaimana solusinya. Pertama adalah kenyataan bahwa banyak anak muda dan orang tua yang sampai saat ini tidak mengetahui passionnya. Untuk menelaah tantangan ini, saya akan mulai dari kisah yang saat ini banyak beredar di medsos mengenai sistem pendidikan:
“Sekolah KNOWING vs Sekolah BEING”
“Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru dari Perusahaan induknya di Jepang. Ia akan menggantikan Pimpinan yang lama yang memang sudah waktunya untuk balik ke negaranya. Sebagai partner, saya ditugaskan untuk mendampinginya selama ia di Indonesia. Saya menawarkan kepadanya selain perkenalan kepada relasi, juga untuk melihat-lihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung.
Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross. Berbeda dengan saya dan orang Jakarta yang lain, dengan mudah menyeberang di mana saja sesukanya. Teman saya ini tetap tidak terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan, setiap kali akan menyeberang. Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan sarana seperti itu. Yang lebih memalukan, meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang. Teman saya geleng-geleng kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.
Akhirnya saya coba menanyakan pandangan ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi. Dia bertanya, mengapa orang-orang di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana untuk menyeberang jalan? Sementara dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan sarana tsb..
Pelan-pelan dia menjawab pertanyaan saya, “It ALL HAPPENS BECAUSE OF THE EDUCATION SYSTEM.” Saya kaget juga mendengar jawabannya. Apa hubungan nya menyeberang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan?
Dia melanjutkan penjelasan nya, “Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk KNOWING atau SEKEDAR TAHU SAJA, sedangkan yang kedua sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk BEING. Apa maksudnya?
Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal UNTUK DIKETAHUI PARA SISWA. Sekolah TIDAK MAMPU MEMBUAT SISWA MAU MELAKUKAN APA YANG DIKETAHUI SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPAN NYA. Anak-anak tumbuh hanya menjadi MAHKLUK KNOWING, hanya sekedar MENGETAHUI bahwa: » ZEBRA CROSS adalah TEMPAT MENYEBERANG, » TEMPAT SAMPAH ADALAH UNTUK MENARUH SAMPAH. Tapi “MEREKA TETAP AKAN MENYEBERANG DAN MEMBUANG SAMPAH SECARA SEMBARANGAN”.
Sekolah semacam ini BIASANYA MENGAJARKAN “BANYAK SEKALI MATA PELAJARAN”. Tak jarang membuat para siswanya STRESS, PRESSURE & akhirnya MOGOK SEKOLAH. “SEGALA MACAM DIAJARKAN” dan BANYAK HAL DIUJIKAN, “TETAPI TAK SATUPUN DARI SISWA YANG MENERAPKANNYA SETELAH UJIAN”. Ujiannya pun HANYA SEKEDAR TAHU, KNOWING. Di negara kami, sistem pendidikan BENAR-BENAR DIARAHKAN UNTUK MENCETAK MANUSIA-MANUSIA YANG ” TIDAK HANYA TAHU apa yang benar tetapi MAU MELAKUKAN APA YANG BENAR SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPANNYA.
Di negara kami, anak-anak hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:
1. Basic Science
2. Basic Art
3. Basic Social
Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka. Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yang diketahui dlm keseharian hidupnya. Anak-anak ini juga TAHU PERSIS ALASAN MENGAPA MEREKA MAU atau TIDAK MAU MELAKUKAN SESUATU.
Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk BEING, yakni MANUSIA-MANUSIA YANG MELAKUKAN APA YANG MEREKA TAHU BENAR.” Betapa sekolah begitu MEMEGANG PERAN YANG SANGAT PENTING BAGI PEMBENTUKAN PERILAKU & MENTAL ANAK-ANAK BANGSA. Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai “LEMBAGA SERTIFIKASI” yang “HANYA MAMPU MEMBERI IJAZAH” kepada para anak bangsa. KARAKTER, PERILAKU dan KEJUJURAN adalah landasan untuk membangun anak didik yang LEBIH BERADAB DALAM BERPERILAKU.
BUKAN SEKEDAR ANGKA-ANGKA AKADEMIK seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK.. KEJUJURAN dan ETIKA MORAL adalah PRIORITAS UTAMA, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena SETIAP ANAK TERLAHIR PINTAR dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan.
Oleh sebab itu, Seyogyanya, kita TIDAK PERLU TERLALU RISAU jika seorang anak belum bisa calistung ( baca tulis hitung ) atau Pipolondo ( Ping Poro Lan Sudo ) saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun, Tapi mestinya harus peduli jika seorang anak TIDAK JUJUR dan BERETIKA BURUK.
Pendidikan itu BUKAN PERSIAPAN UNTUK HIDUP, karena PENDIDIKAN ADALAH KEHIDUPAN.”
Ketika kita membaca kisah diatas, tentu banyak komentar pro kontra yang bisa kita utarakan, namun memang itulah yang terjadi di negara kita. Anak saya baru saja masuk kelas 1 SD, test masuk yang diujikan adalah test calistung (baca tulis hitung) dan test mengukur tingkat IQ (Kecerdasan Intelektual), bukan untuk mengukur EQ (Kecerdasan Emosional), dari anak saya.
Sementara berdasarkan pengalaman dan berdiskusi dengan beberapa ahli psikologi dan beberapa filsuf, bahwa untuk menemukan passion, kita harus mempunyai nilai EQ yang tinggi, kita harus terus mengembangkan EQ kita, salah satunya adalah nilai kejujuran seperti kisah diatas, termasuk kejujuran terhadap diri sendiri, tidak mudah terpengaruh terhadap omongan orang, tidak mudah ikut-ikutan dan gengsi jika ada orang lain yang lebih berhasil.
Walaupun jujur terhadap diri sendiri ini mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan, sebagai contoh saat saya lulus dari SMU, saya memilih untuk kuliah di jurusan Teknik, bukan karena saya senang di Teknik, namun karena banyak orang yang berkata untuk sukses harus jadi sarjana teknik, dan terdengar keren atau membanggakan ketika orang tahu bahwa saya kuliah di teknik. Namun jika saya bertanya pada diri sendiri dan jujur pada diri sendiri, saya tidak menyukai teknik, saya tidak tahu fungsi dari kesarjanaan teknik saya, bahkan bagaimana filosofi dari sarjana teknik saya, sehingga saya kuliah hanya untuk mengejar ijasah dan gelar sarjana, begitu lulus saya kerja serabutan yang tidak sesuai dengan gelar saya.
Seandainya sedari dini saya mengetahui apa passion saya dengan jujur pada diri sendiri, maka saya akan mencari fakultas yang sesuai dengan passion saya, saya menjalani masa kuliah saya dengan semangat, dan akhirnya lulus dengan mengetahui faedah serta filosofi dari keilmuan saya, serta saya akan bekerja di bidang yang sesuai dengan keilmuan saya, bisa dibayangkan bisa sesukses apa saya sekarang jika hal itu semua terjadi???
Saya teringat dengan perkataan seorang teman saat saya tanya “Kok lo bisa sukses sih, apa rahasianya???”, dia hanya menjawab dengan sederhana “Untuk sukses lo harus tanya kepada Orang (Kuasa) yang paling sukses di dunia, yaitu Orang (Kuasa) yang empunya dunia ini beserta segala isinya, yaitu Tuhan Allah di Surga. Biarkanlah Dia membimbing lo untuk menemukan bidang (passion) yang harus digeluti”, selanjutnya adalah jujur pada diri sendiri dan mengikuti apa yang diri (suara hati) kita katakan, sampai akhirnya kita banyak menemukan kebetulan-kebetulan dalam diri kita yang mengarahkan kita pada passion kita.
Kedua adalah ketika kita sudah mengetahui apa itu passion kita, yang menjadi tantangan berikutnya adalah berani atau tidak nya kita mengambil aksi untuk menekuni passion tersebut??? Berani atau tidak kita meninggalkan bidang yang kita jalani sekarang yang bukan passion kita, untuk menekuni bidang yang menjadi passion kita. Untuk menjawab tantangan ini, saya akan sharing sedikit mengenai pengalaman pribadi saya:
“Suatu pagi ini saya mendengar cerita dari Ibu saya yang sedang semangat-semangatnya ikut kursus pertanaman, bahwa guru kursus pertanamannya adalah orang sukses, berawal karir dari seorang arsitek yang punya hobi bertanam, kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan arsitek untuk fokus bertanam, pada saat itu banyak orang yang menyayangkan dan mencibir, karena menurut banyak orang arsitek lebih menjanjikan dari pada bertanam, apa yang bisa dihasilkan dari bertanam, namun dia tetap berani mengambil resiko dengan awal membeli 100m tanah dengan uang pinjaman dari bank untuk ditanami kaktus, karena kegigihannya saat ini dia mempunyai 2ha tanah dengan berbagai jenis kaktus, dia bekerja sama dengan dinas pertanaman untuk memberikan souvenir jika ada tamu negara yang datang.”
Dari kisah ini banyak hal yang bisa kita pelajari adalah setelah dia mengetahui apa yang menjadi passionnya, maka dia berani mengambil resiko untuk menggeluti passionnya, walaupun banyak yang melihat bahwa keputusan yang diambilnya tidaklah tepat. Kisah diatas adalah salah satu dari banyak kisah orang sukses di dunia, dimana mereka berani keluar dari zona aman, dan fokus mengembangkan passionnya, walaupun banyak orang yang meragukannya.
Sebut saja konglomerat Bob Sadino (Alm) yang berani keluar dari zona amannya sebagai profesional sukses di luar negeri hanya untuk berjualan telor di negeri sendiri dari rumah ke rumah; Valentino Rossi yang terus tekun dengan di dunia balap motor walaupun orang – orang terdekatnya mencibirnya; Bill Gates yang berani keluar dari kuliahnya untuk menekuni pemograman komputer yang sekarang menjadi microsoft; J.K Rowling yang beralih profesi dari seorang sekretaris menjadi penulis buku terkenal Harry Potter; masih banyak lagi kisah orang-orang sukses di sekitar kita yang berani mengambil keputusan untuk menjalani passionnya.
Sering kita melihat kok ada orang yang sukses jadi penjual anjing, kok ada desainer sukses, kok ada pengacara sukses, kok ada motivator sukses, menurut saya, dia hebat karena dia berhasil menemukan passionnya, berhasil bergulat hanya di passionnya, berhasil mempelajari segala hal mengenai passionnya, berhasil mengatasi setiap masalah yang ada di passionya dengan sukacita,dan akhirnya berhasil sukses di passionnya.
Terima kasih, selamat mencoba dan sampai ketemu di artikel selanjutnya.
Salam sehat dan sukses selalu
Team UntungDiCover.com